Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung berkicau seolah sedang menyanyikan lagu untuk alam. Bunyi riak jernih sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di sebuah sungai. Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo—anak gajah lainnya—dengan belalainya, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak Bora kenal. “Hei, lihat itu!” Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk Dodo. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal...
Obat Bosan dari Nenek Oleh: Widya Suwarna Ayah dan Ibu belum pulang dari kantor. Mbak Asti dan Mas Pur pergi kuliah. Kawan bermain Lili, Oni sedang sakit kuning. Vita, tetangga sebelah sedang pergi ke rumah saudaranya. Nah, tinggal Lili dan Mbok Nah yang ada di rumah. Mbok Nah sibuk menyetrika. Lili merasa kesal dan bosan. PR sudah selesai. Dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Biasanya dia bisa bermain dengan Vita atau Oni. “Sudah, tidur saja Li!” usul Mbok Nah. “Ah, orang tidak mengantuk disuruh tidur!” Lili menggerutu. “Atau main ke rumah Dede? Biar Mbok antarkan!” Mbok Nah menawarkan. “Malas ah, rumahnya jauh. Biasanya jam empat begini dia belum bangun. Dia ‘kan harus tidur siang setiap hari!” Lili menolak. Tiba-tiba Lili mendapat gagasan. Dia pergi ke kamar Ibu dan menelepon Nenek. Sesudah bercakap-cakap sejenak, Lili mulai mengeluh, “Nek, kalau tiap hari begini Lili bisa mati. Bosannya setengah mati. Vita pergi, Oni sakit. Di rumah tak ada siapa-siapa!” “Wah, wah, jangan...
Ada tiga ekor burung walet sedang sibuk membuat sarang, mereka sudah setengah hari bekerja, kemudian mereka berhenti sejenak dan mulai berbincang. "Kalau bukan karena kehidupan, aku tidak akan mau seperti ini, betul - betul melelahkan." Walet kedua pun mengeluh : "Ya, kita setiap hari harus membuat sarang, sangat membosankan, aku bisa menjadi gila!" Walet ketiga tertawa, Walet lainnya pun kebingungan. "Hei, mengapa kamutertawa? Apa kamu menertawakan kami." "Oh, tidak, kalian jangan salah sangka. Aku tidak mengerti dengan pikiran kalian. Aku terus mendorong diriku, Aku sedang menyelesaikan tugas yang sangat besar dan harus giat, setelah selesai, anakku kelak menikmati rumah yang hangat dan nyaman." Berhenti sejenak, ia melanjutkan : "Saat waktunya tiba, bagaimanapun kencangnya badai diluar anakku aman, mereka kemudian dapat bertumbuh tanpa halangan, aku pun pasti sangat gembira! Kalian bilang, kita tiap hari melakukarn pekerjaan...
Komentar
Posting Komentar