Cerita Rakyat Kelas 5 : Legenda Ciung Wanara
Dahulu kala berdiri sebuah Kerajaan di Tatar pasundan Jawa barat yang bernama kerajaan Galuh. Pada masa itu raja yang memegang tampuk kepemimpinan bernama Raden Barma Wijaya Kusumah. Sang raja memiliki dua orang permaisuri. Yang pertama bernama Nyimas Dewi Naganingrum dan yang kedua bernama Nyimas Dewi Pangrenyep. Dan pada waktu itu kedua permaisuri tersebut sedang dalam keadaan mengandung.
Hinggatibalah saat melahirkan, Dewi Pangrenyep melahirkan terlebih dahulu. Dari rahimnya lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Hariangbanga. Tidak lama kemudian, Dewi Naganingrum pun melahirkan, pada saat Dewi Naganingrum melahirkan yang bertindak sebagai bidan (Parajisunda) adalah Dewi Pangrenyep. Dari rahim Dewi Naganingrum pun lahirlah seorang bayi laki-laki juga.
Selama ini Dewi Pangrenyep tidak menginginkan seorang istri pesaing bagi dirinya, karena jika ada permaisuri lain maka kelaktakhta kerajaan pun akan terbagi menjadi dua dan itu sangat tidak di inginkannya.
Tanpa sepengetahuan Dewi Naganingrum, bayi laki-lakinya telah ditukarnya dengan seekor anak anjing, sedangkan bayi yang sebenarnya telah dimasukannya ke dalam sebuah keranjang dengan disertakan sebutir telur ayam, lalu bayi dalam keranjang itu dihanyutkannya kesungai Citanduy.
Pada saat murka Raja memanggil Ki Lengser (Penasehat raja), tetapi kali ini bukan untuk meminta nasehat, melainkan memerintahkan ke pada Lengser agar Dewi Naganingrum segera dibunuh dan dibuang mayatnya ke tempat yang jauh. Tanpa pikir panjang Ki Lengser pun segera pamitan dari hadapan rajanya untuk segera menjalankan tugasnya.
Sepanjang perjalanan Ki Lengser berpikir keras, untuk menyelamatkan nyawa Dewi Naganingrum, karena dia yakin semua peristiwa yang terjadi adalah hasil rekayasa. Sesampainya di sebuah hutan belantara akhirnya ki Lengser berhenti dan meminta Dewi Naganingrum untuk ikut turun.
Dibuatkannya sebuah gubug untuk tempat tinggal bagi Dewi Naganingrum, dengan segala kelengkapannya meski sangat sederhana. Setelah dirasa cukup memberi nasehat kepada Dewi Naganingrum, Ki Lengser berjanji akan menengoknya walaupun tidak bisa menjanjikan seberapa sering dan seberapa lama. Dewi Naganingrum dalam hatinya berharap agar suatu hari nanti ia akan bertemu dengan putranya yang sebenarnya, dan bisa kembali hidup di lstana Galuh bersama keluarganya. Ki Lengser pun pulang kembali ke keraton Galuh untuk melapor kepada raja bahwa tugasnya membunuh Dewi Naganingrum telah diselesaikannya dengan baik. Dan untuk buktinya Ki Lengsertelah membasahi senjatanya dengan darah binatang buruan di hutan tadi. Sehingga nampak pada senjatanya garis-garis darah kering.
Sementara di tempat lain, di sebuah kampungyang bernama kampung Gegersunten hiduplah sepasang suami istri yang sudah cukup tua. Tetapi mereka tidak memiliki anak satu orang pun. Merekalah yang bernama Aki dan Nini Balangantrang. Suatu sore keduanya pergi kepinggiran kali Citanduy untuk menengok Babadon (perangkap ikan) yang sudah mereka pasang sejak pagi buta. Alangkah terkejutnya mereka dan sekaligus bahagia ketika sampai ditempat mereka memasang Babadon, karena disana mereka menjumpai sebuah keranjang besaryang berisi seorang bayi laki-laki yang sangat lucu dan tampan, mungkin inilahjawaban doa yang selama ini mereka panjatkan tanpa lelah. Sebutirtelur ayam yang disertakan dengan bayi tersebut, telah dikirimnya oleh Aki Balangantrang kepada seekor naga yang bernama Nagawiru dan bersemayam di gunung Padang. Naga ini bukanlah naga sembarangan melainkan jelmaan seorang dewa, dan sudah menjadi tugasnya untuk mengerami sebutir telur yang disertakan dengan bayi dari putra Barma Wijaya Kusumah. Yang kelak di kemudian hari telur itu menetaskan seekor ayam jantan dan menjadi binatang piaraan serta kesayangan dari si anak bayi yang dihanyutkan.
Waktu terus berlalu, tanpaterasa bayi itu sudah tumbuh remaja kini, tampan dan elok rupanya. Dengan penuh ketekunan dan ketelatenan Aki dan Nini Balangantrang mewariskan semua ilmu kesaktian yang mereka miliki kepada anak angkatnya. Pada suatu hari Aki Balangantrang kembali mengajak putranya untuk berburu ke hutan di sekitar tempat tinggal mereka. Sesampainya di hutan
anak angkat Aki Balangantrang ini melihat seekor monyet yang dia anggap aneh karena baru melihatnya, monyet itu bernama wanara. Kemudian diapun melihat seekor burung yang baru dijumpainya, burung itu bernama ciung. Keduanya sepakat, nama dari kedua satwa itu digunakan sebagai nama anaknya. Jadilah ia bernama Ciung Wanara.
Kini Ciung Wanara sudah tumbuh menjadi seorang pemuda. la ingin pergi ke Galuh. Berangkatlah Ciung Wanara ke kerajaan Galuh dengan membawa serta ayam jantan kesayangannya. Sesampainya di Galuh, Ciung Wanara bertemu dengan dua orang patih yang bernama Purawesi dan Puragading. Kedua orang patih keraton itu tertarik melihat penampilan ciung Wanara, yang membawa-bawa ayam jantan, akhirnya kedua patih itu menghampiri dan mengajak adu tanding dengan ayam miliknya masing-masing. Ciung Wanarapun tidak menolak ajakan kedua orang patih tersebut, maka
terjadilah pertandingan sabung ayam di tengah alun-alun kota Galuh. Nasib baik berpihak pada Ciung Wanara, ayam jantan kesayangannya memenangkan pertandingan dan ayam kedua patih tersebut kalah sampai mati.
Kemenangan Ciung Wanara atas ayam milik kedua patih tersebut segera tersiar ke seantero kerajaan Galuh hingga terdengar sampai ke keraton. Bahwa di kota ada seorang pemuda tampan bernama Ciung Wanara memilikiseekor ayam jantan yang tangguh. Takdir telah mempertemukan antara ayah dan anak yang selama ini terpisah oleh fitnah jahat perbuatan Dewi Pangrenyep.
Setelah mendapat cukup penjelasan dari pemuda tersebut, sang Prabu Barma Wijaya Kusumah pun melanjutkan niatnya untuk mengajak pertandingan sabung ayam dengan Ciung Wanara. Dan ajakan itu pun disambut baik oleh Ciung Wanara. Keduanya bersepakat, jika Ciung Wanara menjadi pemenang dalam sabung ayam itu maka setengah dari kerajaan Galuh akan diberikan kepada Ciung Wanara dan Ciung Wanara akan di akui sebagai anaknya. Ciung Wanara akan diangkat sebagai raja yang syah.
Namun sebaliknya, jika Ciung Wanara kalah dalarm pertandingan sabung ayam tersebut, maka nyawa
Ciung Wanara menjadi taruhannya, dia akan dihukum mati sebagai bukti kekalahan ya.
Dan sabung ayam pun segera berlangsung dengan seru, pada awalnya ayam milik Ciung Wanara nampak kalah dan terdesak. Di saat yang sedang kritis itu Nagawiru pun datang dan masuk meraga
sukma ketubuh ayam milik Ciung Wanara. Ayam itu pun dengan serta merta menjadi segar dan kuat
kembali. Ciung Wanara segera kembali membawa ayamnya yang sudah dimandikan dan pertandingan pun dilanjutkan.
Kali ini berkat ada kekuatan Nagawiru di dalam tubuh ayam milik Ciung Wanara maka dengan mudah dan cepat ayam milik Prabu Barma Wijaya Kusumahpun mulai kalah dan terdesak. Bahkan ayam itu sering lari ketakutan keluar dari arena pertandingan. Ciung Wanara kembali memenangkan pertandingan sabung ayam tersebut. Sesuai dengan kesepakatan Prabu Barma Wijaya Kusumah pun memenuhi janjinya dan mengakui Ciung Wanara sebagai putranya yang syah. Maka kerajaan Galuh pun dibagi dua oleh sang Prabu, setengahnya lagi diberikan ke pada Hariangbanga dan diangkat pula menjadi raja menggantikan dirinya. Segala rahasia kehidupan Ciung Wanarapun terbuka sudah dan segala kesalahan yang dilakukan Dewi Pangrenyep terbongkar dengan sendirinya. Setelah Ki Lengser menceritakan bahwa ibunya Dewi Naganingrum masih ada dan di asingkan di sebuah hutan. Ciung Wanara sangat berbahagia dan segera menjemput ibundanya. Begitupun dengan kedua orangtua angkatnya Aki dan Niini Balangantrang dibawa serta kekeraton. Kini Ciung Wanara telah menjadi seorang raja.
Sementara itu Dewi Pangrenyep mulai hatinya ketar ketir setelah tahu kalau Ciung Wanara adalah anak bayi yang dibuangnya dulu. Hingga akhirnya kegelisahan dan ke khawatirannya itu pun segera terjawab dan terwujud. Prabu Ciung Wanara setelah tahu apa yang telah dilakukan oleh Dewi Pangrenyep terhadap ibunda dan dirinya sendiri, maka segera membentuk pasukan khusus untuk menangkap Dewi Pangrenyep. Tanpa menemui kesulitan yang berarti Dewi pangrenyep segera tertangkap dan di jebloskan kedalam penjara istana untuk membayar segala kejahatan dan kekejannya.
Sementara Raden Hariangbanga sangat kaget ketika mengetahui kalau ibundanyatercinta telah ditangkap oleh tentara prabu Ciung Wanara dan dijebloskan ke dalam penjara. Pertarungan antara dua
orang adik kakak beda ibu itupun tak dapat terelakan lagi. Pertarungan sengit terus terjadi dan raden
Hariangbanga harus berlaku satria dia kalah terdesak oleh adiknya Ciung Wanara.
Konon menurut tutur yang beredar di masyarakat tatar Pasundan, karena kalah terdesak dalam
pertarungan tubuh raden Hariangbanga dilempar oleh Ciung Wanara hingga menyebrangi sungai
Cipamali, maka sejak itulah kerajaan Galuh benar-benar terbagi menjadi dua.
... **: TAMAT .
Sumber : Slideshare Legenda Ciung Wanara
Penulis : Lianita Dian
https://www.slideshare.net/slideshow/legenda-ciung-wanara/49207742
Komentar
Posting Komentar